Bagi sebagian pengguna media sosial, membuka aplikasi kini terasa seperti masuk ke lorong yang sama setiap hari. For You Page atau FYP di TikTok menampilkan drama China pendek atau dracin dengan potongan adegan emosional yang berulang. Konflik keluarga, kisah cinta berliku, hingga cerita balas dendam disajikan dalam format singkat dan berseri. Di saat yang sama, halaman Explore dan Reels di Instagram juga kerap dipenuhi gosip artis dan konten sensasional yang temanya tidak jauh berbeda.
Fenomena ini memunculkan rasa jenuh. Banyak pengguna merasa tidak pernah secara sadar mengikuti akun dracin atau mencari gosip selebritas. Namun, konten tersebut justru mendominasi linimasa. Untuk memahami mengapa hal ini terjadi, penting melihat cara kerja algoritma media sosial secara lebih utuh.
Algoritma Membaca Apa yang Dilakukan, Bukan Apa yang Diinginkan
Algoritma media sosial bekerja dengan prinsip pengamatan perilaku. Sistem mencatat setiap interaksi pengguna sebagai data. Video yang ditonton sampai selesai, dihentikan beberapa detik, diputar ulang, atau memancing pengguna membuka kolom komentar akan dianggap sebagai sinyal ketertarikan.
Yang sering luput disadari, algoritma tidak memahami alasan di balik tindakan tersebut. Ketika seseorang berhenti menonton dracin karena penasaran dengan alur cerita, sistem tidak tahu bahwa rasa penasaran itu bersifat sementara. Bagi algoritma, durasi tontonan tetap dihitung sebagai minat. Jika pola ini berulang, sistem akan menyimpulkan bahwa drama China pendek adalah konten yang relevan.
Hal serupa berlaku pada gosip artis. Judul provokatif dan isu hangat membuat banyak orang berhenti scrolling. Dari sudut pandang algoritma, ini adalah indikator bahwa konten tersebut berhasil menarik perhatian. Akibatnya, rekomendasi konten sejenis akan terus diperbanyak.
Mengapa Dracin Sangat Efektif di Platform Video Pendek
Drama China pendek memiliki format yang sangat sesuai dengan karakter media sosial berbasis video singkat. Durasi pendek membuat konten mudah ditonton hingga selesai. Alur cerita yang dibuat menggantung mendorong rasa ingin tahu. Banyak akun menyajikan cerita secara berseri, sehingga satu video terasa belum tuntas tanpa menonton kelanjutannya.
Bagi algoritma, tingkat retensi seperti ini bernilai tinggi. Semakin lama pengguna bertahan di satu jenis konten, semakin besar peluang konten serupa muncul kembali. Inilah alasan mengapa FYP bisa dipenuhi dracin meski pengguna tidak pernah mengetik kata kunci terkait atau mengikuti akun serupa.
Linimasa yang Menyempit Tanpa Disadari
Seiring waktu, algoritma akan menyaring konten yang dianggap tidak menarik bagi pengguna. Konten yang jarang ditonton atau cepat dilewati akan semakin jarang muncul. Sebaliknya, konten yang sering ditonton, meski tanpa interaksi aktif, akan semakin mendominasi.
Proses ini membentuk apa yang sering disebut sebagai gelembung konten. Linimasa menjadi semakin sempit. Variasi topik berkurang. Pengguna merasa terjebak pada jenis konten tertentu, padahal sistem hanya merespons data perilaku yang terkumpul.
Reset Algoritma Instagram sebagai Solusi Teknis
Untuk mengatasi kejenuhan, Instagram menyediakan fitur Reset suggested content. Fitur ini dapat diakses melalui menu pengaturan pada bagian preferensi konten. Setelah reset dilakukan, pola rekomendasi lama akan dihapus. Halaman Explore dan Reels kemudian menampilkan konten umum yang belum dipersonalisasi.
Instagram juga menghadirkan fitur Your Algorithm. Melalui fitur ini, pengguna dapat melihat topik apa saja yang paling sering muncul di linimasa. Pengguna diberi kebebasan untuk memilih konten yang ingin lebih sering atau lebih jarang ditampilkan. Jika drama China atau gosip artis sudah terlalu dominan, topik tersebut dapat dikurangi secara langsung.
Menyegarkan FYP TikTok
TikTok menyediakan fitur resmi bernama Refresh your For You feed. Fitur ini dapat ditemukan di menu Settings and privacy, lalu Content preferences. Setelah dikonfirmasi, FYP akan kembali diisi video populer yang bersifat umum.
Namun, TikTok menekankan bahwa reset hanya menghapus pola lama. Algoritma akan kembali belajar dari aktivitas terbaru pengguna. Artinya, kebiasaan setelah reset menjadi faktor penentu arah rekomendasi berikutnya.
Langkah Manual yang Berpengaruh Besar
Selain reset otomatis, ada langkah manual yang sering diabaikan. Meng-unfollow akun yang tidak lagi relevan merupakan langkah penting karena akun yang diikuti sangat memengaruhi isi linimasa. Menghapus riwayat pencarian dan tontonan juga membantu menghilangkan jejak minat lama yang masih tersimpan.
Fitur “Not Interested” sebaiknya digunakan secara aktif. Ini adalah sinyal langsung yang kuat bagi algoritma. Melewati konten dengan cepat tanpa berhenti juga membantu mengurangi kemungkinan sistem membaca konten tersebut sebagai minat.
Strategi Aktual agar FYP Lebih Beragam
Agar FYP tidak kembali dipenuhi dracin dan gosip artis, pengguna perlu membangun kebiasaan baru. Pertama, gunakan media sosial dengan tujuan. Menentukan jenis konten yang ingin dikonsumsi sebelum membuka aplikasi membantu pengguna lebih selektif saat scrolling.
Kedua, aktif mencari konten yang benar-benar diminati. Menggunakan kolom pencarian untuk topik edukasi, teknologi, kesehatan, atau hobi tertentu membantu algoritma mengenali minat baru lebih cepat.
Ketiga, perkuat sinyal positif. Menonton konten relevan sampai selesai, memberi tanda suka, atau menyimpan konten tertentu akan memperjelas preferensi pengguna di mata sistem.
Keempat, batasi scrolling tanpa arah. Aktivitas ini sering membuat pengguna berhenti di konten sensasional yang sebenarnya tidak diinginkan.
Algoritma sebagai Pantulan Kebiasaan Digital
Pada akhirnya, algoritma media sosial tidak memilih konten secara acak. Sistem hanya memantulkan kebiasaan pengguna dari waktu ke waktu. Jika FYP dipenuhi dracin dan gosip artis, kondisi tersebut sering kali terbentuk dari interaksi yang terjadi tanpa disadari.
Dengan memahami cara kerja algoritma dan memanfaatkan fitur yang tersedia, pengguna dapat mengambil kembali kendali atas pengalaman digitalnya. Reset algoritma bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk membangun konsumsi konten yang lebih sadar, beragam, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
